HomeKabar BintuniGerabah Papua Bukan Hanya Soal Makanan, Namun Juga Kepercayaan

Gerabah Papua Bukan Hanya Soal Makanan, Namun Juga Kepercayaan

Banyak orang yang asing ketika membahas gerabah dari Papua. Pasalnya, industri gerabah tersebar di seluruh Nusantara. Dan, biasanya berasal dari tanah Jawa sebutlah Banyuwangi sebagai daerah penghasil gerabah.

Namun demikian, bukan berarti masyarakat Papua tak memiliki budaya gerabah. Bahkan, baru-baru ini peneliti menemukan gerabah tertua yang ada di sekitar Danau Sentani, Papua. Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua, menyebut terdapat sejumlah situs peradaban gerabah di Papua.

Hari menyebut terdapat beberapa situs di bagian utara Papua, pulau lepas pantai Papua, sampai kawasan pesisir Kepala Burung. Adapun wilayah yang belum ditemukan situs gerabah adalah wilayah selatan dan pegunungan Papua.

“Budaya penggunaan gerabah dan pengetahuan membuatnya di Papua, dikenalkan oleh orang berbahasa Austronesia 3.000 tahun yang lalu,” ungkap Hari Suroto, peneliti di Balai Arkeologi Papua, mengutip National Geographic.

Hari melanjutkan secara khusus, terdapat beberapa wilayah yang terkenal atas peradaban gerabahnya. Antara lain Kayu Batu di Kota Jayapura, Abar di Sentani, Kurudu di Yapen, Mansinam di Manokwari. Namun, yang masih eksis adalah Kampung Abar.

Gerabah: Bentuk Penghormatan Kepada Leluhur

Bagi masyarakat Kampung Abar, Sentani, gerabah tidak hanya sekadar tempat makan. Atau bahkan, sebuah dekorasi saja. Bagi mereka, ini adalah warisan nenek moyang yang mampu menjaga mereka dari mara bahaya, khususnya dari makanan.

Barbalina Ebalkoy, misalnya. Ia menyebut bahwa masyarakat Abar harus menyantap makanan dari gerabah. Lebih khusus lagi, papeda. Bahwa, jika menggunakan tempat lain, sebutlah piring plastik, maka mereka khawatir akan terkena penyakit.

“Kalau di sempeh (gerabah untuk makan) tidak dapat penyakit. Kalau di plastik itu buatan, nanti dapat penyakit. Orang tua kasih tahu begitu berapa tahun. 5 sampai 6 tahun dapat penyakit dalam. Kita pakai yang asli saja,” ungkap Mama Barbalina, mengutip CNN.

Itu sebabnya masyarakat Abar pantang makan sagu selain di sempe. Selain itu, gerabah merupakan bentuk penghormatan terhadap sagu yang mana hasil dari kerja keras nenek moyang menanam dan menjaga alam. 

Gerabah memiliki nama lokal bagi masyarakat Abar. Sempe atau helai misalnya, adalah tempat untuk membuat papeda sekaligus tempat makan. Sedangkan hele adalah tempat untuk menyimpan sagu.

Kemdian, ada pula ebe hele untuk memasak ikan dan sayuran. Ada bhu ebe untuk tempat air, hote sebagai tempat menyajikan ikan dan sayuran, dan kendanggalu untuk mencetak sagu bakar.

Sebagaimana diungkapkan oleh Mama Barbalina, gerabah dan papeda tidak bisa dipisahkan. Ini karena mereka punya tradisi turun temurun saat memakan papeda dalam sempe. Dahulu, anak-anak akan berkumpul bersama orang tua kala papeda sudah dihidangkan. Pada waktu itulah orang tua memberikan nasehat kepada generasi muda. 

Sepak Terjang Menjaga Tradisi Gerabah

Perjalanan dalam menjaga tradisi ini tidaklah singkat. Menurut Hari, teknik pembuatan gerabah masyarakat Abar berasal dari nenek moyang mereka dari Pasifik. Kemudian, teknik tersebut diturunkan kepada marga Felle yang hingga saat ini masih menjadi kebanggaan masyarakat Abar.

Dahulu, marga Felle membuat gerabah pada malam hari dan sembunyi-sembunyi. Hanya laki-laki yang boleh membuat gerabah. Jika pantangan ini dilanggar, maka gerabah akan rusak atau mudah pecah.

Kepala Kampung Abar, Naftali Felle, menyebut bahwa kini pantangan itu mulai ditinggalkan. Perempuan boleh membuat gerabah dan tak perlu membuatnya malam hari. Hal ini untuk menjaga kelestarian tradisi itu sendiri.

Namun, masih ada pantangan yang perlu dipatuhi. Misalnya, perempuan yang hamil atau sedang menstruasi tidak boleh membuat gerabah. Hal ini untuk menjaga kemurnian gerabah.

Ada pula pantangan lainnya saat membuat gerabah. Pertama, tidak boleh ada anak yang menangis di rumah saat membuat gerabah. Kedua, tidak boleh ada yang sedang marah saat membuat gerabah.

Untuk melestarikan tradisi ini, Naftali Felle membentuk kelompok gerabah bernama Titian Hidup pada tahun 2008. Ini kemudian berhasil mengangkat tradisi gerabah Papua hingga keluar pulau. 

Namun, tahun 2019, banjir besar melanda Kampung Abar. Ini membuat sejumlah rumah warga tenggelam. Ramai warga menyelamatkan gerabah mereka agar dapat tetap lestari. Hingga kini, bekas dari banjir itu masih ada. 

Hari Suroto menyebut kegiatan ini adalah tradisi yang menarik. Pasalnya, papeda dan gerabah adalah dua produk leluhur yang unik. Bahkan, menyehatkan. Memasak papeda dengan gerabah akan mengeluarkan rasa yang lebih nikmat.

Sumber:
Janur, Katharina. 2020. Selamat Pagi dari Kampung Gerabah Abar Sentani. Liputan6 edisi 5 April 2020

Ramadhan, Fadhil. 2021. Pusparagam Cycloop: Gerabah Terakhir Papua di Tepian Danau Sentani. National Geographic edisi 5 April 2021

CNN. 2019. Suara Dari Rimba Sagu, Papua Belum Bebas Gizi Buruk. CNN Indonesia edisi 19 Oktober 2019

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments