HomeKabar BintuniNarasi Food Estate Papua: Beras dan Sagu jadi Fokus Pengembangan

Narasi Food Estate Papua: Beras dan Sagu jadi Fokus Pengembangan

Ilustrasi sagu. Foto: Pixabay

Narasi dan asumsi terkait food estate di Indonesia beragam. Ada beberapa hal yang melatarbelakangi hal tersebut. Mulai dari kegagalan program lumbung pangan sejak zaman Orde Baru, hingga kajian ilmiah yang menunjukkan dampak yang cukup berat bagi lingkungan, sosial dan budaya.

Sebagai contoh, dalam Sajogyo dalam jurnal penelitian berjudul “‘Etika pembangunan, siapa yang punya? Kasus: Ide koperasi” menyebutkan modernisasi pertanian kadang tidak dibarengi dengan pengembangan pengetahuan tentang petani lokal. Pemerintah cenderung memonopoli sumber daya ketimbang memahami kehidupan petani.

Hasilnya, program-program pangan hanya menguntungkan lembaga-lembaga negara atau pengelola, bukan petani. Konsep tersebut kerap disebut dengan modernisasi tanpa pengembangan.

Contoh konkritnya dapat dilihat dalam program Merauke Integrated Food & Energy Estate (MIFEE). Proyek itu direncanakan menggandeng 36 investor yang akan menggarap lahan seluas 1,23 juta hektar. Dari jumlah tersebut, 50 persen diperuntukan untuk budidaya tumbuhan pangan pokok, yakni beras. Kemudian, 30 persen digunakan untuk gula dan 20 persen untuk industri sawit.

Program tersebut jelas tidak memasukan pangan lokal di Merauke menjadi salah satu agenda mereka. Bahkan kenyataannya, jatah lahan sawit yang justru lebih banyak melakukan ekspansi. Tak ayal, masyarakat kehilangan kepercayaan pada program pemerintah.

Food Estate Kini Berbeda, Sagu jadi Fokus Utama

Kepala BPTP Papua, Martina Sri Lestari, mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi meletakkan perhatian khusus pada sagu. Menurutnya, pemerintah menyadari bahwa sagu merupakan makanan pokok masyarakat Papua.

“Sagu ini mendapatkan perhatian dari Pak Presiden. Tahun 2022, kami punya program food estate sudah dinaikkan sama Pak Presiden. Papua diminta sagu. Kementerian Pertanian sudah fokuskan food estate kita di Papua padi dan sagu. Kemungkinan besar sagunya nanti di Timika dan padi di Merauke,’ jelas Martina Sri Lestari, mengutip Jubi.

Saat ini, sekitar 50 persen persen total luas tanaman sagu Indonesia berada di Pulau Papua. Ini menunjukkan bahwa potensi pembudidayaan sagu di Timur Indonesia sangat potensial. Tak hanya itu, potensi ketahanan pangannya pun tinggi.

Oleh karenanya, pemerintah memasukkan sagu ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 karena dinilai strategis bagi ketahanan pangan nasional.

Jika hal ini benar, maka salah satu kekhawatiran masyarakat Papua dapat terjawab. Sejak dulu, sagu dianggap sebagai komoditas yang tersingkirkan. Di Papua, sagu tergerus oleh investasi dan pembangunan. Mereka beralih menjadi pohon sawit atau bahkan gedung.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris II Dewan Adat Papua, John NR Gobai. Menurutnya, sagu harus dianggap penting karena komoditas tersebut lebih dari sekadara sumber pangan.

“Hutan sagu merupakan sumber penghidupan masyarakat adat Papua. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hutan sagu di berbagai wilayah Papua mulai tersingkir,” kata Gobai.

 

Sumber:

Pademme, Arjuna. 2021. Program Food Estate di Papua Fokus Sagu dan Padi. Jubi edisi 9 Juni 2021.

______________.2021. Tiga Daerah di Papua Miliki Kawasan Hutan Sagu Cukup Luasl. Jubi edisi 9 JUni 2021.

Sajogyo. (2004). ‘Etika pembangunan, siapa yang punya? Kasus: Ide koperasi’. Unisia, 343-350.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments