HomeKabar BintuniLost Generation Bukan Lagi Ancaman, Tapi Sudah di Depan Mata

Lost Generation Bukan Lagi Ancaman, Tapi Sudah di Depan Mata

Ilustrasi pengungsi. Foto: pixabay

Akhir-akhir ini, istilah lost generation atau generasi yang hilang kembali menjadi perbincangan. Istilah ini awalnya digunakan untuk menyebut mereka anak-anak atau pemuda korban perang dunia. Mereka dianggap kehilangan arah dan hidup mereka yang merupakan dampak dari perang dunia.

Konsep ini kemudian digunakan untuk mengingatkan kepada dunia bahwa pandemi Covid-19 berpotensi untuk menyebabkan hal tersebut. Turunnya kualitas pendidikan akibat pandemi membuat banyak sekolah yang akhirnya tidak mampu menyelesaikan target pendidikannya. 

Data dari United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) menyebut bahwa setidaknya sebanyak 1 persen atau 938 anak berusia 7-18 tahun yang berhasil disurvei telah putus sekolah akibat pandemi Covid-19. 

Perubahan sistem sekolah bukan penyebab utama. UNICEF menyebut bahwa sebanyak 74 persen anak dilaporkan putus sekolah karena alasan ekonomi. Ketua DPR RI, Puan Maharani, senada dengan hal tersebut.

Beliau menyebut anak merupakan kelompok rentan di masa pandemi corona. Bukan hanya soal pendidikan, namun juga soal terifenksi hingga ditinggal oleh orang tua mereka.

“Anak-anak adalah salah satu kelompok yang paling rentan dalam pandemi ini. Mulai dari mereka yang terinfeksi langsung, ditinggal wafat orangtua, sampai mereka yang belajarnya terganggu karena pandemi,” kata Puan, dalam peringatan Hari Anak Nasional, mengutip republika.

Pendidikan bukan satu-satunya alasan lost generation. Kemiskinan, narkoba, stunting, atau mereka yang terdampak bencana dan perang juga menjadi penyebab munculnya lost generation ini. 

Ancaman Lost Generation di Papua Nyata

“Saya menghabiskan enam hari di Ilaga, Kawasan Puncak pada Juli 2021, di mana orang-orang tinggal di zona perang,” ungkap Rode Wanimbo, Koordinator Departemen Perempuan Gereja GIDI.

Saat itu, konteks ungkapan Rode merujuk pada konflik di Papua Barat di masa pandemi. Ia menyebut banyak warga yang terpaksa keluar rumah akibat konflik bersenjata. Padahal, saat itu masih masuk dalam masa pandemi.

Rode menyebut hal ini tak hanya sekali dua kali. Misalnya, tahun 2018 konflik antara pasukan keamanan Indonesia dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) di Nduga menyebabkan ribuan pengungsian internal (IDP). Termasuk perempuan dan anak.

Pendekatan keamanan yang Rode sebut sudah ada sejak 1963 memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat Papua. September ini saja, terdapat 2.086 warga sipil yang menjadi pengungsi akibat konflik di Maybrat. Pengungsi ini berasal dari 36 Kampung pada 5 Distrik yaitu Aifat Selatan, Aifat, Aifat Timur, Aifat Timur Selatan dan Afat Timur Tengah.

Di Papua, jumlah ini lebih banyak. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua menyebut hampir mencapai 40 ribu masyarakat sipil di Nduga, Intan Jaya, dan Tembagapura menjadi korban akibat konflik antara TNI-Polri dan TPNPB pada 2018-2020.

Konsep lost generation yang merujuk pada korban konflik dan peperangan bukanlah isapan jempol atau istilah yang kadaluarsa. Nyatanya, hal ini ada di depan mata, terjadi di Indonesia.

 

Sumber:

Adyatama, Egi. 2021. 2.086 Warga Maybrat Papua Mengungsi Setelah TPNPB Serang Koramil. Tempo edisi 11 September 2021.

Andriyansah, Anugrah. 2020. Jumlah Pengungsi Akibat Konflik di Papua Terus Bertambah. Voaindonesia edisi 13 Maret 2020.

Jayani, Dwi Hadya. 2021. 938 Anak Indonesia Putus Sekolah Akibat Pandemi Covid-19. Databoks edisi 8 April 2021.

Redaksi Suara Papua. 2021. Rode Wanimbo: Rakyat dan Alam Papua Barat Telah Mengalami Rasisme Sistemik. Suarapapua edisi 9 September 2021. 

Wakik, Ahmad Kiflan. 2021. Cegah Lost Generation, Ketua DPR Minta Anggaran Covid Juga Dialokasikan Untuk Perlindungan Anak. RMOL edisi 23 Juli 2021.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments