Manokwari – Dr. Ir. Petrus Kasihiw, MT, atau yang akrab disapa Piet, resmi mengundurkan diri dari Partai NasDem. Mantan Ketua DPW Partai NasDem Papua Barat Daya ini kini berlabuh di Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang dinilainya lebih mampu mengakomodasi perjuangannya di bidang lingkungan hidup dan perhutanan.
Petrus menyampaikan bahwa pilihan tersebut didasari keinginannya memiliki ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan isu lingkungan dan perhutanan di Papua Barat.
“Saya memilih PSI karena di sana saya melihat ruang yang lebih besar untuk memperjuangkan lingkungan dan perhutanan, dua hal yang sejak lama menjadi perhatian saya,” ujarnya.
Mengabdi di Alam dan Ruang Kelas
Langkah politik ini menegaskan arah yang kini ditekuni Petrus di luar partai. Ia mendirikan Yayasan Lestari Suara Alam di Papua Barat. Ia juga mengajar sebagai dosen di Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Caritas Indonesia, Manokwari.
Mata kuliah yang diampunya mencakup ilmu lingkungan, ekologi umum, ekonomi sumber daya alam, biodiversitas, dan pengelolaan kawasan konservasi.

Dari Tambrauw ke Kursi Bupati
Perjalanan Petrus bermula dari birokrasi. Ia pernah menjabat Kepala Bappeda dan Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Tambrauw. Dari sana ia melangkah menjadi Bupati Teluk Bintuni dua periode, 2016–2021 dan 2021–2024. Ia tercatat sebagai bupati ketiga Teluk Bintuni, sekaligus tokoh yang ikut memperjuangkan pemekaran daerah itu menjadi kabupaten.
Di masa kepemimpinannya, pembangunan infrastruktur menjadi sorotan. Pelabuhan Rakyat Sumuri berdiri, dan jalan-jalan beton membuka wilayah terisolasi, seperti Bintuni–Moskona Utara dan Moskona Timur, Merdey–Masyeta, serta Bintuni–Merdey.
Di balik jabatan, Petrus dikenal memelihara hubungan personal yang hangat. Mantan Wakil Bupati Matret Kokop, yang berbeda keyakinan dengannya, pernah berkunjung ke kediamannya di Oransbari, Manokwari Selatan, untuk bersilaturahmi pada momen Natal. Petrus menyebut hubungan mereka selama dua periode memimpin Teluk Bintuni lebih bersifat kekeluargaan daripada sekadar hubungan politik.
Sikap Tegas soal Eksploitasi Alam
Isu lingkungan sudah lama menjadi benang merah pemikirannya. Dalam perbincangan dengan redaksi pada 10 November 2020, saat Teluk Bintuni ditetapkan sebagai kawasan industri khusus, Petrus menegaskan bahwa kekayaan alam tidak boleh dieksploitasi serampangan.
Eksploitasi sumber daya. Menurutnya Teluk Bintuni sudah hidup dari gas dan petrokimia. “Kita lihat dulu, apakah eksploitasi itu diperlukan atau tidak?” katanya. Jika kelak diperlukan, perizinan, amdal, izin lingkungan, dan pemenuhan hak masyarakat adat harus dilihat betul.
Sawit. Ia belum setuju konsesi sawit di lahan baru karena dinilai berdampak buruk bagi hutan mangrove dan menyerap banyak air. Jika ada, lokasinya hanya di lahan yang sudah mati dan tidak mengganggu ekosistem mangrove.
Tata ruang. Ia tidak lagi mengizinkan HPH di kawasan Bintuni Lama, yang sering tergenang karena dibangun serampangan, dan mengarahkan pembangunan ke pintu masuk Bintuni dari Manokwari.
Hak masyarakat adat. Bersama Matret Kokop, ia memperjuangkan Dana Bagi Hasil hingga terbit Perdasus, agar pemilik ulayat paling merasakan manfaat industri.
Arah pembangunan. Ia mengarahkan Teluk Bintuni menjadi kawasan Eco Industry 4.0, dengan pembukaan akses jalan dan telekomunikasi untuk menopang industri LNG dan petrokimia.
Sikap serupa terlihat saat ia menyoroti pertambangan nikel di Raja Ampat. Petrus menilai kegiatan itu perlu ditinjau ulang karena pariwisata dianggap lebih menguntungkan dan berkelanjutan.
Babak Baru
Kini, dengan seragam politik yang baru, Petrus membawa modal yang sama: pengalaman memimpin daerah, latar akademik di bidang lingkungan, dan keyakinan bahwa pembangunan dan kelestarian alam harus berjalan beriringan.



